P A U D

Daily 9 Comments

Jujur…. dulu sebelum menikah dan belum merasakan punya anak sendiri aku paling sebel kalo ngeliat orang tua terutama ibu yg notabenenya adalah seorang ibu rumah tangga menitipkan anaknya pada sebuah lembaga pendidikan atau yang dulu biasa aku sebut “tempat penitipan anak” sementara para momy sibuk ke salon atau shopping. Tapi sekarang setelah merasakan sendiri memiliki seorang anak yang lucu, pandai dan kreatif, presepsiku berubah total, bahwa lembaga tersebut bukan hanya sekedar “tempat penitipan anak” bahwa seorang ibu rumah tangga yang awam (seperti saya ini) dalam mengatasi kepandaian dan kekereatifan sang anak memang benar² membutuhkan lembaga tersebut.

Melihat judul diatas, mungkin ada yg belum tau apa itu PAUD, PAUD itu adalah kependekan dari Pendidikan Anak Usia Dini. Dari banyak yg aku liat dan dengar dr mama-mama lainnya memang anak generasi sekarang itu benar-benar anak generasi milenium, banyak sekali anak balita zaman sekarang kepintarannya melebihi umurnya. Gak jauh contohnya anakku sendiri Daiva Nara Kurniawan. Daiva sekarang berumur 2 tahun 3 bulan 24 hari tepatnya tapi yang aku gak habis fikir bagaimana bisa anak sekecil itu bisa menirukan banyak hal hanya dengan melihat dan mendengar. Dan hebatnya hanya dengan mendengar satu kali saja lagu asing *terutama lagu yg ada suara anak-anaknya*, dia bisa langsung menirukan walau dengan terbata-bata tapi nadanya bisa diikuti. Ok stop membicarakan kehebatan anakku gak akan pernah habis mungkin.. hahaha narsis dikit bole donk.

Ya melihat perkembangan anakku yg aku sendiri gak bisa mengimbangi, kenapa aku bilang aku ga bisa mengimbangi, karna makin banyak hal yg ingin dia coba tapi aku gak bisa memberikan karena fasilitas yg aku punya terbatas, bukannya pelit buat aku apa seh yg nggak buat anak, andai bisa kubelikan surga dunia pasti aku belikan. Tapi sayang banyak batasan dan juga pembatasan yg aku berikan ke anakku sebab aku gak ingin anakku terlalu mudah minta ini itu selayaknya anak orang kaya. Mengingat ketidak mampuanku tersebut aku teringat lembaga-lembaga yg dulu sempat aku sebut “tempat penitipan anak” yg ternyata menurutku sekarang presesiku tentang lembaga tersebut berubah total dan aku sangat membutuhkannya agar kreatifitas anakku bisa lebih dikembangkan.

Setelah banyak lembaga yg aku survey (sedikitnya 6 lembaga di Bekasi sudah kudatangi) dan dengan pertimbangan yg matang antara aku dan sang suami tersayang memutuskan untuk memilih salah satu lembaga yg lokasinya di Kemang Pratama sana sebagai lembaga tempat kami mempercayakan anak kami untuk memperluas kreatifitasnya. Lokasinya gak terlalu jauh dari rumah kami, yg paling penting adalah apa yg ditawarkan lembaga tersebut untuk mendidik anak kami. Kurang lebih hampir semua lembaga yg aku survey memberikan harga pendidikan yg cukup mahal berkisar 3-7 juta dan juga kurikulum pendidikan yg sama, tapi ada satu kelebihan dari lembaga yg kami pilih ini yg gak diberikan oleh lembaga lain yaitu ekstrakulikulernya yg menurut aku cukup menarik. Lembaga yg satu ini menawarkan kegiatan ekstrakulikuler berenang, menari, musik dan bahasa inggris yang kebetulan sekali anakku menyukai semua kegiatan tersebut. Tentunya juga kami sebagai orang tua yg tidak bisa memberikan pendidikan agama yg kuat menginginkan lembaga yg bernuansa islami dan alhamdulillah lembaga tersebut memberikannya.

Akhirnya Pencarianku berakhir jua, hehehe setelah banyak tanya sana sini dan survey sana sini. Dengan segala fasilitas yg diberikan oleh lembaga pilihan kami tersebut harga yg mahal kami kira layak layak saja. Ohya saran buat ibu-ibu yg masih bingung dengan mempercayakan anaknya untuk dititipkan di lembaga mana. Lebih baik di survey datang terlebih dahulu agar tahu tingkat kenyamanan tempat belajar mengajar untuk si anak dan jangan ragu untuk bertanya banyak karena ini semua untuk anak kita tercinta. Buat anak??? apa seh yg ngga!!!!!!!!!!!!! hehehehe

3th anniversary

event 6 Comments

 aniv

Love does not consist of just gazing at each other

But looking together in same direction

Happy wedding anniversary Han….

With love…mama

“cinta pilu”

Daily 5 Comments

Singkat cerita, seorang gadis belia bernama Dewi berusia 21 tahun, muda, cantik hanya saja kurang pergaulan, antisosial. Seperti cerita lama, orang tua kehabisan biaya, sekolah hanya sampai jenjang SMA. Tapi cukup untuk mencari kerja, bekerja dipabrik elektronik sebagai buruh pabrik. Masa muda yang penuh suka cita, kisah cinta remaja akhirnya datang padanya, kekasih tercinta penuh dengan puja tak ada cela. Kisah cintanya berlanjut, berakhir dipelaminan. Cinta penuh nafsu tetapi terlalu polos. Kehidupan awal perkawinan begitu indah terasa, seakan membenarkan teori orang, bahwa kalo sedang dimadu cinta, dunia milik berdua yang lain ngontrak. Sayangnya dewi dan dewa masih satu atap dengan mertuam, yang tak lain adalah orang tua dewa, yang berarti mereka lah yang berstatus mengontrak.

satu bulan kehidupan pernikahan mereka, kebiasaan-kebiasaan Dewi sebelum menikah dibawa-bawa ke rumah “kontrakan”, membuat ibu mertua agak-agak senewen dan tidak bisa memakluminya. Yang seharusnya memberi nasihat atau masukan malah mengadu langsung ke orang tua Dewi. Orang tua Dewi merasa sakit hati, tidak terima dengan semua perkataan si mertua, yang akhirnya berakibat ada penarikan kembali Dewi ke rumah aslinya atau bahasa kerennya pisah rumah. Dewa tak bisa berbuat apa-apa, baginya bagai makan buah simalakama, satu sisi istri satu lagi ibunda, akhirnya karena kepolosan dan kepatuhan dewa, keputusannya adalah berpisah…. cerai…

sunyi……. tak ada suara sepi sekali…..

enam bulan berlalu, bahkan pada saat orang ramai bersilaturahmi merayakan hari raya dewa tak kunjung menjenguk dewi…. depresi…. tak kuasa rasa hati dewi membendung kangen pada dewa tapi rasa hormat pada orang tuanya membuat dewi mengurungkan niat untuk berjumpa lagi dengan dewa. Siapa yang tahu bahwa mereka berdua masih dibakar api asmara.. ya hanya dewa dan dewi lah yang tahu dan merasakannya…

penat… gunjingan orang sana sini… makin depresi..

Sore itu, selesai menulis di secarik kertas, dewi melanjutkan pekerjaan rumahnya yang tertunda karena pekerjaan pabriknya, mencuci. Ayah baru saja pulang dari pekerjaan kasarnya sementara ibu sedang memanjakan kakinya dengan memijit-mijitnya. Lama tak kunjung selesai pekerjaan mencuci dewi. ayah mulai curiga yang kemudian menghampiri dewi. Betapa terkejut melihat anaknya tergantung kain di lehernya di dekat tiang jemuran… rumah sakit pun tak bisa menolong nyawanya lagi… dewi pun telah pergi untuk selamanya yang tertingggal hanya secarik kertas berisi permintaan maaf kepada ibunda dan ayahanda juga untuk kakak adiknya dan terakhir untuk SANG DEWA.

SESAL…hanya itu yang bisa dirasakan oleh semuanya kini. cinta polos dan tulus berakhir dengan kematian.

Aneh ya tiba-tiba nulis kek gituan, tapi itu semua ku tulis berdasarkan kisah nyata. Biasanya gak peduli ama yg gini ginian. tapi gak tau kenapa yang ini nyangkut banget di hati ku, dan pengen ku publish.